MERANGKAI KERAGAMAN

MERANGKAI KERAGAMAN (Bagian Unity)

Oleh: Ps. Lukman Pandji

 

Gaung pengkotbah di mimbar, seruan-seruan doa yang seringkali dikumandangkan umat Kristiani tentang “UNITY” atau PERSATUAN bukan sebuah ungkapan yang asing lagi.

Penjabaran dari perkataan FIRMAN ALLAH ternyata bukan merupakan hal yang mudah untuk diwujudkan melalui sebuah kotbah.Dikarenakan oleh beberapa factor diantaranya : perbedaan latar belakang masing masing, habitat dimana seseorang bertumbuh untuk kurun waktu yang cukup lama.

Pada waktu pra pilkada ,kami diundang ke Pulau BALI untuk melakukan konferensi pers dengan bapak I Wayan Koster yang saat ditulisnya artikel ini, beliau menjabat sebagai Gubernur Bali.Selain Kawan kawan mengisi acara seminar tentang UU ITE di salah satu Perguruan Tinggi yang sudah lama berdiri di Denpasar.  Sangat tergugah ,ketika bapak Gubernur BALI mengatakan beberapa point inti diantaranya :

·         Beliau sedih karena nama Bali dipakai oleh sebuah Produk luar negeri, “ BALLY”.Sehingga memunculkan keinginan untuk mengangkat produk hasil daerah BALI agar mendunia.Sebab BALI yang sepertinya telah menjadi PUSAT PERHATIAN DUNIA dibidang PARIWISATA saja tidaklah cukup.

·         Kerukunan dan tali persaudaraan di Pulau BALI menjadi fondasi yang penting.Dengan demikian setiap wisatawan yang berkunjung merasa nyaman.Sebagai contoh : Peristiwa Bom Bali beberapa tahun yang lalu ,telah berdampak besar; Berkurangnya pemasukan devisa, Kecemasan yang melanda kehidupan masyarakat. Toleransi di BALI akan tetap dipertahankan dengan  menjunjung rasa solidaritas kebangsaan,Apapun latar belakangnya,perhatikan saja di satu lokasi bisa dibangun 4 tempat Ibadah dari  aliran agama berbeda, bukankah itu merupakan rangkaian gambaran sebuah kerukunan yang harmonis?

Sempat saya menyampaikan kerinduan kepada beliau, “Pak Koster, sekali waktu kami rindu menyelenggarakan konser seni budaya seperti “NYANYIAN INDONESIA”.Dijawab spontan dan beliau sangat meresponi serta memberikan ‘lampu hijau’.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Kita mengenal betul Semboyan yang tertera dalam gambar Lambang Negara, yakni : Bhineka Tunggal Ika. Berbeda beda tetapi satu.

Upaya merangkai tali kebersamaan ditengah keaneka ragaman tidak lepas merupakan bagian tanggung jawab umat beriman , termasuk gereja gereja di Indonesia.Tentunya memprihatinkan jika perkembangan statistic merek organisasi gereja maupun Lembaga pelayanan semakin banyak, namun memprihatinkan jika salah satu factor penyebabnya adalah terjadi ‘silang pendapat berujung kepada perpecahan internal’.

Unity perlu diupayakan,diwujudkan melalui jalinan keterpaduan diantara kelembagaan Kristen di Indonesia, sebagai kelompok yang dianggap minoritas.Tanamkan saling menghargai dan menghormati demi menjaga kerukunan ,supaya mendatangkan berkat berkat seperti “embun yang dari Hermon”.

Tidak ada seorang tokoh super yang dapat mempersatukan dan mewujudkan UNITY dalam kerangka universal, selain SANG KEPALA TUBUH, yaitu YESUS KRISTUS TUHAN.

Upaya dalam kelompok kecil dengan kesatuan VISI mungkin akan lebih mudah untuk dilakukan.Sebagai bagian dari anggota TUBUH tentunya perlu turut mengambil peran sesuai porsi dan fungsinya merealisasikan Visi yang dihasilkan sebagai rumusan kesepakatan bersama.

Tak terpungkiri bahwa fenomena yang terjadi malah semakin banyak merek organisasi dan kelembagaan Ke kristenan di NKRI ,sehingga  berdampak makin merebaknya  gap dan pengkotak kotak an.

Sejarah gereja pada abad ke 3, ke 4 dengan munculnya istilah Agama, “Religion” :(religio) untuk tujuan yang baik.Namun seiring perjalanan waktu , isitilah AGAMA telah memunculkan pengelompokan: agama A, B dlsb.Yang pada akhirnya setelah era Reformasi dikalangan gerejapun makin bermunculan aliran dilatar belakangi oleh doktrin doktrin.

TUBUH KRISTUS ,sebagai gereja yang am, jelas membutuhkan pula peranan “domain pelayanan SENDI dan URAT” yang dapat menghubungkan antar anggota TUBUH KRISTUS diberbagai tempat (Kolose 2:19).

Bidang pelayanan yang semestinya jangan terabaikan dikalangan organisasi gereja.Fungsi pelayanan sebagai penghubung, networking, kemitraan, kolaborasi juga sebaliknya tak perlu mengerucut menjadi bentuk pelayanan yang dianggap eksis dan berdiri sendiri.Perkembangan dan pertumbuhan gereja bukan terletak pada faktor ‘merias diri dalam Batasan forum forum dan 4 sudut dinding’.

Perbedaan selama tak bertentangan dengan dasar iman kepada KRISTUS merupakan ‘perbendaharaan’ yang kaya dengan keaneka ragaman.Dapatkah para Tokoh kerohanian menciptakan keharmonisan ibarat seni memainkan sebuah orchestra atau konser(??).Keselarasan perpaduan bunyi ,  dengan  aransemen yang indah, sebagai platform .Ditunjang oleh keahlian “ manajerial yang handal dari semua unsur dan elemen” ternyata masih langka.Berbagai upaya melalui kegiatan konferensi, pagelaran telah memakan biaya yang mahal ,ternyata setelah bubar Kembali lagi pada pola pikir lama dan telah mengakar.

Berharap suasana pandemic covid 19 ini akan menjadi salah satu petanda waktu terbaik.Dimana para tokoh, rohaniwan, pendeta pendeta mengambil waktu sejenak berelaksasi rohani dan merefleksi diri untuk melihat betapa indahnya sebuah KETERPADUAN.Berbagai corak dan warna warni melalui pribadi pribadi yang dipercayakan untuk dilayani merupakan anugerah TUHAN.

Tempatkanlah KRISTUS , SANG KEPALA GEREJA untuk selalu menjadi TERUTAMA serta menjadi focus dan pusat perhatian setiap pribadi jemaat Tuhan maupun rekan rekan sekerja diladang TUHAN.

Niscaya “perpecahan dalam komunitas gereja” akan terhindarkan.Dan gereja TUHAN akan bertumbuh dari waktu ke waktu meninggalkan sifat sifat kekanak kanak an seperti yang terjadi dalam gereja di KORINTUS yang notabene berlimpah dengan karunia karunia ROH (Charismata).

Terapkan ajaran KASIH supaya makin mendewasakan kita semua.Sebab Kasih adalah TUHAN yang kita sembah dan padaNYA kita mengabdi.Berbahagialah tiap pribadi yang menyatakan diri hidup didalam TUHAN, karena akan terus memberikan pancaran KASIH yang sebenarnya.

Kolose 3:14 : Dan diatas semuanya itu:kenakanlah kasih (=Put on “Charity/love) , sebagai PENGIKAT yang MEMPERSATUKAN dan MENYEMPURNAKAN.

“Dan berusahalah memelihara kesatuan ROH oleh ikatan damai sejahtera….” (Efesus 4 :3-6). (Giving diligence to keep the unity of the SPIRIT in the bond of peace !)

Mari bersama terus memasuki pembelajaran seni merangkai kebersamaan ditengah Perbedaan dimulai dengan kelompok dalam skala terbatas.Untuk kemudian tanpa putus harapan kiranya akan melebar sebagai “ bukti percontohan” ditengah kehidupan masyarakat dan bangsa tercinta.

                                                     

Salam kasih dalam ikatan kasih Persaudaraan Kristus.

Lukman Pandji, Pelayan TUHAN.